Solo Kota Pertunjukan, Ini Alasannya

Ribuan orang berpartisipasi dalam acara Solo Menari di Jl. Slamet Riyadi, Solo, Minggu (29/4 - 2018). (Solopos/Ika Yuniati)
31 Juli 2018 21:28 WIB Farida Trisnaningtyas Pojok Bisnis Share :

Solopos.com, SOLO — Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menilai Solo menjadi salah satu kota yang paling punya potensi memiliki ekonomi kreatif. Salah satu aset yang bisa digarap lebih maksimal adalah sebagai Kota Pertunjukan dengan adanya Solo International Performing Arts (SIPA).

Hal ini diungkapkan Staf Khusus Bekraf, Mesdin Kornelis Simarmata, dalam penandatanganan nota kesepahaman Bekraf dengan Pemkot Solo di Hotel Sahid Jaya Solo, Selasa (31/7/2018).

Menurutnya, Solo memiliki potensi ekonomi kreatif berbasis budaya yang semestinya bisa dikemas dengan apik. Ia mencontohkan adanya SIPA yang jadi ajang performing art. Potensi Solo untuk jadi kota pertunjukan ini sangat besar mengingat belum ada kota performing art di Indonesia.

“Di Jogja sudah ada Art Jog yang berbasis seni lukis. Solo harus bikin SIPA ini jadi momentum. Dengan ini nantinya sektor lain mendukung. Kuliner berkembang, muncul studio, fotografi, hingga film,” ujarnya, kepada wartawan.

Selain Solo, sejumlah kota yang memiliki potensi ekonomi kreatif adalah Bandung, Malang, Jogja, Surabaya, dan Bali. Selain kota-kota tersebut sektor ekonomi kreatifnya berada di level medioker.

Di sisi lain, ekonomi kreatif sektor kuliner jadi tertinggi di Indonesia. Dari 16 sektor yang dikembangkan Bekraf, kuliner ini menempati porsi sekitar 40%. Setelah itu, disusul kriya, dan fashion nongarment. Dalam hal ini muslim fashion punya pangsa luar biasa biasa dengan dibuktikan dari nilai ekspor sektor ini khususnya ke Amerika Serikat.

Sebanyak 16 sektor itu adalah arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film, animasi, video, fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, dan televisi serta radio.

Dalam hal ini Bekraf bertugas melalui deputi-deputinya antara lain, riset, edukasi dan pengembangan. Selain itu, juga untuk membuka akses permodalan, memfasilitasi infrastruktur, memfasilitasi pemasaran, memfasilitasi pendaftaran hak kekayaan intelektual dan regulasi, serta membangun hubungan antarlembaga dan wilayah. Maka dari itu, perlu adanya kesinambungan antara akademisi, pengusaha, pemerintah, komunitas, dan media.

Sayangnya, pengembangan ekonomi kreatif ini hanya disokong dana Rp520 miliar dari APBN untuk seluruh Indonesia pada 2017. Pada 2018 anggaran ini justru dipangkas menjadi Rp500 miliar.

“Kami sebagai pengguna tentu bilang tidak cukup. Namun demikian, ini tidak mematahkan kami untuk terus menggenjot sektor ini sebagai salah satu penyokong perekonomian Indonesia,” imbuhnya.  

Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, menambahkan adanya nota kesepahaman yang diteken dengan Bekraf membuat pengembangan ekonomi kreatif khususnya generasi muda Solo kian terbuka lebar. Salah satunya adalah adanya berbagai pelatihan yang digelar untuk kian mengembangkan potensi yang ada.

“Di berbagai sektor ada, pariwisata, kebudayaan, hingga kelurahan. Nantinya DPK kelurahan 2019 sudah tidak boleh untuk bangun fisik, tapi untuk membangun manusianya. Salah satunya ini bisa dimanfaatkan sektor ekonomi kreatif,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Forum UMKM Solo, Roni Prasetyo, mengatakan sebenarnya sudah banyak kegiatan Bekraf di Solo. Baik itu berupa pelatihan-pelatihan, diskusi, dan sebagainya. Namun demikian, ia menggarisbawahi sektor pembinaan yang belum ada.

“Kami berharap nantinya ada paket pelatihan komplet. Setelah itu, ada pendampingan sehingga berkelanjutan,” jelasnya. 

 

Tokopedia